Langkah kakiku tiba-tiba membawaku ke sebuah tempat
keramaian (nama tempatnya: Blok Negara sebelah) dimana banyak anak manusia yang
berjejer di tepi jalan, mulai dari blok itu sampai depan pintu istana, mereka sambil
berbaju almamater tercintaku dengan mengibarkan bendera kebangsaan almamaterku
yang baru. Sungguh haru ku melihatnya, tapi belum sampai ku teteskan air
mataku, setelah itu dengan asyiknya aku ikut nimbrung duduk-duduk di bawah
pohon rindang. Aku melihat wajah pengatur jalan dipojok itu sungguh menakutkan
dan menggelikan, parasnya yang tinggi gagah, berani dan perkasa mencoba
mengamankan semua kendaraan umum dan orang-orang yang mau belok kearah tempat pesta
itu, pengecualian untuk mobil mewah dan orang-orang rapi berdasi boleh belok
kearah itu. Membikin ku jadi penasaran dan ku mulai bertanya-tanya siapa sih orang
didalam mobil itu, ku coba mencuri-curi pandangan ke arah mobil-mobil mewah
itu, tapi tidak ada yang aku kenal sama sekali, sungguh tragis. Siapa orang-orang
asing itu, yang ada di wilayah tercintaku. Wajah mereka menampakkan kecemasan
karena sedang menunggu Papah.
Mulai siap-siap mereka menyambut mobil mahal yang ditumpangi
Papah terkasih Kenapa hari ini mereka sungguh arrogant mulai dari tukang-tukang
pintu sampai dengan para antek-anteknya. Seakan-akan aku tidak pernah mengenal
dia. Benar juga kata AA:’Ketika kita
merasa lebih dari yang lain, disadari atau tidak, sikap dan tuturkata kita akan
cenderung merendahkan yang lain, ini adalah ciri kesombongan’. Ketika DPR
aku tidak sendiri, tapi bersama temanku yang cantik, dia polos sekali jadi ku
ajak saja ikut aku, sekalian tuh nemenin aku, nama cantiknya Ainun. Aku mengenalnya
sudah cukup lama, kita sering sharing dan sering jadi tempat mencurahkan
kegalauanku jika lagi kesepian. Dia tidak pernah lelah mendengarkan curhatanku.
Tidak lama kemudian orang-orang yang dipinggir jalan dan
para pengawal riuh, seperti ada yang mau datang, ku mulai terpengaruh juga dan
terperanjat berdiri dan ingin melihat juga. Eh … sial ternyata bohong, tidak
ada siapa-siapa, kecemasan dan rasa penasaranku seperti Minke ketika dalam
perjalanan menuju kerumah Annellis. Rasa kecewa muncul dibenakku, sudah
menunggu cukup lama namun tidak muncul juga. Waktu sudah menunjuukkan pukul 14.40
wib. Aku putuskan untuk pulang, karena aku ada janji untuk bertemu salah satu
temanku. Namanya Lina, dia orang Negara sebrang. Disini dia merantau sendirian.
dia orangnnya terlihat dewasa banget dan menyenangkan. Katanya sih ingin curhat,
lalu sekalian tuh ku samperi ke depan kosnya. Tidak lama kemudian dia muncul
membawa buah kesukaanku haha.. Terima Kasih. Berkah sore itu, Alhamdulillah.
0 komentar:
Posting Komentar