Rabu, 04 Desember 2013

MENUNGGU: Penasaran

Standard
Langkah kakiku tiba-tiba membawaku ke sebuah tempat keramaian (nama tempatnya: Blok Negara sebelah) dimana banyak anak manusia yang berjejer di tepi jalan, mulai dari blok itu sampai depan pintu istana, mereka sambil berbaju almamater tercintaku dengan mengibarkan bendera kebangsaan almamaterku yang baru. Sungguh haru ku melihatnya, tapi belum sampai ku teteskan air mataku, setelah itu dengan asyiknya aku ikut nimbrung duduk-duduk di bawah pohon rindang. Aku melihat wajah pengatur jalan dipojok itu sungguh menakutkan dan menggelikan, parasnya yang tinggi gagah, berani dan perkasa mencoba mengamankan semua kendaraan umum dan orang-orang yang mau belok kearah tempat pesta itu, pengecualian untuk mobil mewah dan orang-orang rapi berdasi boleh belok kearah itu. Membikin ku jadi penasaran dan ku mulai bertanya-tanya siapa sih orang didalam mobil itu, ku coba mencuri-curi pandangan ke arah mobil-mobil mewah itu, tapi tidak ada yang aku kenal sama sekali, sungguh tragis. Siapa orang-orang asing itu, yang ada di wilayah tercintaku. Wajah mereka menampakkan kecemasan karena sedang menunggu Papah.
Mulai siap-siap mereka menyambut mobil mahal yang ditumpangi Papah terkasih Kenapa hari ini mereka sungguh arrogant mulai dari tukang-tukang pintu sampai dengan para antek-anteknya. Seakan-akan aku tidak pernah mengenal dia. Benar juga kata AA:’Ketika kita merasa lebih dari yang lain, disadari atau tidak, sikap dan tuturkata kita akan cenderung merendahkan yang lain, ini adalah ciri kesombongan’. Ketika DPR aku tidak sendiri, tapi bersama temanku yang cantik, dia polos sekali jadi ku ajak saja ikut aku, sekalian tuh nemenin aku, nama cantiknya Ainun. Aku mengenalnya sudah cukup lama, kita sering sharing dan sering jadi tempat mencurahkan kegalauanku jika lagi kesepian. Dia tidak pernah lelah mendengarkan curhatanku.

Tidak lama kemudian orang-orang yang dipinggir jalan dan para pengawal riuh, seperti ada yang mau datang, ku mulai terpengaruh juga dan terperanjat berdiri dan ingin melihat juga. Eh … sial ternyata bohong, tidak ada siapa-siapa, kecemasan dan rasa penasaranku seperti Minke ketika dalam perjalanan menuju kerumah Annellis. Rasa kecewa muncul dibenakku, sudah menunggu cukup lama namun tidak muncul juga. Waktu sudah menunjuukkan pukul 14.40 wib. Aku putuskan untuk pulang, karena aku ada janji untuk bertemu salah satu temanku. Namanya Lina, dia orang Negara sebrang. Disini dia merantau sendirian. dia orangnnya terlihat dewasa banget dan menyenangkan. Katanya sih ingin curhat, lalu sekalian tuh ku samperi ke depan kosnya. Tidak lama kemudian dia muncul membawa buah kesukaanku haha.. Terima Kasih. Berkah sore itu, Alhamdulillah.

0 komentar:

Posting Komentar